Senin, 09 Juni 2025

Sayangi Pangkreasmu

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ‎


Sayangilah Pankreasmu

Suatu siang di IGD, saya sedang berdiskusi tentang satuan-satuan yang tertera di hasil lab, terutama hasil gula darah sewaktu.

“Dok, jadi maksud hasilnya 100 mg/dL itu gimana sih?” tanya Ella. “Iya dok, kenapa naik sedikit jadi di atas 200 mg/dL langsung disebut diabetes?” lanjut Bowo. “Sedangkan di bawah 70 mg/dL bisa bikin orang pingsan, dok?” timpal Agus.

Saya tersenyum sumringah. Saya paling senang kalau mereka bertanya. Keingintahuan itu tanda kepedulian, tanda mereka ingin mengerti agar kita bisa melayani lebih baik.

“Oke, 100 mg itu berapa gram, La?” Ella menjawab ragu, “0,1 gram?” Saya mengangguk.

“1 desiliter itu berapa liter, Wo?” tanya saya lagi. “0,1 liter, dok?” jawab Bowo. “Terus, 0,1 dibagi 0,1 berapa?” “1, dok.” jawabnya.

Saya melanjutkan, “Jadi 100 mg/dL itu sama dengan 1 gram per liter. Artinya, dalam 1 liter darah manusia, normalnya hanya boleh ada 1 gram gula.”

“Nah, ada berapa liter darah kita, Gus?” “Kira-kira 5 liter, dok,” jawab Agus yakin.

“Bayangin ya,” saya sambil memutar cincin kawin di jari manis, “Ini cincin beratnya kira-kira 5 gram.”

Saya lalu menunjuk ke galon kecil berisi air. “Itu galon 5 liter, isinya air putih semua. Sekarang... bayangkan satu cincin kecil ini dijatuhkan ke dalam galon itu. Hanya segitu. Itulah perbandingan normal kadar gula dalam darah kita.”

Saya diam sejenak. Menatap mata mereka satu per satu.

“Pertanyaannya sekarang, berapa gram gula yang kamu masukin ke tubuh kamu hari ini?”

Mereka semua syok. Mulutnya nganga. 

“Banyak, dok...” jawab Agus lirih. "Asli banyak dok." Tambah Bowo.

Saya mengangguk pelan.

“Diabetes disebut penyakit gula darah tinggi karena memang gula tidak seharusnya berada dalam darah. Mereka harusnya berada di dalam sel-sel tubuh.”

Saya melanjutkan, “Walaupun kamu makan bergram-gram gula tiap hari, tahu gak kenapa sampai sekarang kamu belum diabetes?? Kenapa kadar gula darahmu masih normal, sekitar 100-an mg/dL?”

Mereka bertiga geleng-geleng barengan, padahal gak janjian. 

“Karena Pankreasmu masih cinta sama kamu,” kata saya sambil tersenyum. “Masih mau kerja keras buat kamu. Masih mau menghasilkan insulin setengah mati untuk ‘nangkepin’ gula-gula itu dan memasukannya ke dalam sel tubuh. Makanya gula dalam darahmu tetap hanya 5 gram.”

“Oooh…” mereka bertiga menjawab bersamaan lagi.

“Puluhan, bahkan Ratusan gram gula tiap hari aku makan dan minum. Tapi pankreas bisa menahan kadar darahku tetap di 5 gram?” ucap Agus, sambil berdecak kagum dan tepuk-tepuk tangan. 

“Iya, Gus,” saya jawab, “tapi ada kelanjutannya.”

“Setelah insulin menangkap gula, dia berkeliling menawarkan ke berbagai organ. Ke otot, ‘Otot, kamu mau gula?’ Otot jawab, ‘Enggak, aku lagi rebahan aja.’ Lalu ke otak, ‘Otak, kamu mau gula?’ Otak jawab, ‘Enggak, aku lagi gak mikir.’”

“Insulin bingung. Gula harus segera keluar dari darah. Tapi pada gak butuh. Lalu dimasukkin ke mana dong? Akhirnya dia masukkan ke tempat yang gak ada batasannya, yaitu di bawah kulit. Namanya apa?”

Saya angkat tangan ke depan, menunjuk mereka satu per satu sambil tersenyum. Mereka menjawab lirih, seperti paduan suara, “Lemaaak…”

Saya mengangguk. “Itulah kenapa insulin disebut juga Fat Storing Hormone.”

Bowo iseng mencubit perut buncitnya Agus. “Pankreasmu kerja keras, Gus.”

Agus terkekeh sambil melirik ke Ella. 

Ella tolak pinggang. “Apa liat-liat? Masih tebelan kamu!”

Saya tertawa kecil dan melanjutkan, “Masalahnya, kita gak pernah tahu kapan pankreas kita akan 'ngambek'. Gak mau bikin insulin lagi. Kita juga gak tahu kapan sel-sel tubuh akan resisten terhadap insulin. Tapi saat itu terjadi, maka lahirlah penyakit bernama Diabetes. Sang induk dari segala macam penyakit.”

"Jadi, sayangilah Pankreasmu."

9.11 AM · 10 Jun 2025.

Source : https://x.com/GiaPratamaMD/status/1932259179575849293

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GULA DARAH & MAKANAN

Pati pada Baso & Tahu Baso Seperti kita ketahui makanan disekitar kita di dominasi dari olahan bahan pati & ...